Transmisi
transovarial Aedes
spp dan pengendaliannya
Salah
satu penyakit yang disebabkan oleh nyamuk adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue.
Penyakit ini seringkali mendatangkan kejadian luar biasa (KLB) dan angka
kejadian penyakitnya pun susah untuk dikendalikan apalagi saat musim penghujan.
Vektor biologi dari virus ini adalah nyamuk
Aedes SPP. Dimana tempat perkembang biakannnya di dalam
rumah dan diluar rumah yang terdapat air yang
tidak bersinggungan langsung dengan tanah.
Ada
dua cara virus dengue mempertahankan
keberadaannya secara horizontal dan vertikal. Dulu demam berdarah disebarkan
Nyamuk Aedes spp dengan cara menggigit penderita demam berdarah lebih
dulu, lalu liurnya yang mengandung virus dengue
itu ia tularkan ke manusia lain yang ia gigit berikutnya (transmisi horizontal). Tapi sekarang virus dengue bisa menyebar
tanpa gigitan nyamuk lagi hal ini dikarenakan terjadinya transmisi vertikal atau biasa disebut transmisi transovarial. Jadi virus-virus dengue ini bisa diturunkan
Tiga
jenis mekanisme dengue transmisi transovarial:
(i).
nyamuk betina terinfeksi menggigit dan menghisap darah inang, yang memungkinkan virus untuk
mereplikasi dalam nyamuk, yang terinfeksi telur sehingga menimbulkan
larva yang terinfeksi. (ii). nyamuk betina yang tidak terinfeksi memiliki kegiatan seksual dengan nyamuk jantan yang terinfeksi, sehingga penularan infeksi ke nyamuk betina, dan (iii).
jaringan ovarial nyamuk
betina menjadi terinfeksi dan virus
ditularkan secara genetik
ke generasi berikutnya.1
ke generasi berikutnya.1
Salah
satu bukti adanya transmisi ovarial ini ditunjukan dari suatu penelitian yang
menyatakan bahwa terdapat transmisi vertikal
virus dengue pada telur Ae. aegypti generasi F2 dari nyamuk Ae.
aegypti betina yang sebelumnya diinfeksi dengan virus DEN-2 secara oral dan terbukti terinfeksi virus DEN-2 secara transovarial (F1). Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan virus dengue di alam
terpelihara secara vertikal. Hal ini terjadi bila virus ditransfer masuk ke
dalam telur saat fertilisasi melalui oviduct/saluran sel telur selama masa
embriogenesis, akibatnya telur terinfeksi menghasilkan larva yang infeksius yang
nantinya akan menjadi nyamuk dengan tingkat infeksi melebihi 80%. 2 .
Penelitian yang sama tentang transmisi transovarial
yang dilakukan dimalaysia menyatakan bahwa DEN-2 virus terdeteksi
sampai generasi ke-5 dari nyamuk betina tapi absen dari 6 dan generasi
ke-7 dengan MIR (minimum infection rate)
untuk setiap generasi berturut-turut
menurun. Hanya sekitar 50% dari larva berhasil menetas dari telur.
3
Dari keterangan diatas maka perlu
pengendalian vektor nyamuk yang lengkap, dari pengendalian telur-larva-pupa
hingga kenyamuk dewasa. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan 3M plus merupakan
suatu langkah pengendalian yang tepat. Dimana PSN dan 3M plus sudah termasuk
dalam pengendalian vektor buatan dan biologi yang dirasa sangat aman dan tidak
mengganggu keseimbangan alam dan jauh dari pencemaran. Ada satu lagi
pengendalian hasil teknologi rekayasa genetika yang juga ramah lingkungan,
potensial dan efektif dikenal dengan
teknik serangga mandul (TSM). Mekanisme TSM ini dengan mengradiasi
nyamuk-nyamuk jantan yang ada di laboratorium kemudian melepaskannya ke habitat
secara bertahap sehingga akan mengakibatkan penurunan jumlah populasi pada
habitat. Hal ini disebabkan infertilitas dari nyamuk jantan tadi, ataupun
pembuahan tetap terjadi tetapi telur yang dihasilkan tidak fertil. teoritis
pada generasi ke-4 persentase fertilitas mencapai titik terendah menjadi 0%
atau dengan kata lain jumlah populasi serangga pada generasi ke-5 nihil.
Keberadaan
virus dengue dialam terpelihara
secara horizontal dan vertikal. Sehingga dalam pengendaliaan vektornya juga
kita harus melihat tidak hanya pada sudut pandang satu sisi saja. Tapi
pengendalian harus dilakukan secara kompleks. Pengendalian yang komples ini
meliputi pengendalian dari telur-larva/jentik-pupa-dewasa. Sehingga tujuan
pengendalian vektor nyamuk Aedes spp
dapat terwujud dan angka kejadian penyakitnya pun dapat dikendalikan.
Sumber kepustakaan:
1. Dwi Hartanti M, Suryani, & A.Tirtadjaja I. Dengue Virus Transovarial Transmission By Aedes
Aegypti. Universa Medicina. 2010:29:2: 65
2. Seran Magdalena desiree
& Prasetyowati
Heni
. Transmisi Transovarial Virus
Dengue Pada Telur Nyamuk Aedes
Aegypti (L.). Aspirator Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis. 2012. 4:
2 : 59-61
- Rohani A, Zamree I, Joseph RT and Lee HL. Persistency of transovarial dengue virus in aedes aegypti (linn.). Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2008.39: 5:813-816
Tidak ada komentar:
Posting Komentar